Banda Aceh, 29/5 (ANTARA) - Provinsi Aceh bakal tidak ikut Pekan Paralimpic Nasional (Peparnas) di Riau, Oktober 2012, karena hingga kini dana persiapan yang diperkirakan Rp1 miliar belum ada kejelasan dari pemerintah setempat.
Ketua Nasional Paralimpic Comite (NPC/Persatuannya Olahraga Penyadang Cacat Nasional) Provinsi Aceh Hamdaniel di Banda Aceh, Selasa, menyatakan, perhatian pemerintah provinsi dan dana bantuan dari KONI Aceh hingga hari ini juga belum jelas, sehingga keikutsertaan Aceh di Paralimpic Nasional terancam batal.
Padahal, menurut dia, NPC Aceh sudah membuat program akan melaksanakan seleksi daerah akhir Juni dan membuat pemusatan latihan daerah bagi atlet yang lolos seleksi.
Namun demikian, menurut dia, tidak adanya perhatian Pemerintah Aceh sampai saat ini membuat keikutsertaan atlet penyandang cacat Aceh ke ajang paralimpic nasional terancam gagal.
Namun demikian, menurut dia, tidak adanya perhatian Pemerintah Aceh sampai saat ini membuat keikutsertaan atlet penyandang cacat Aceh ke ajang paralimpic nasional terancam gagal.
NPC Aceh sudah merencanakan mengikuti tujuh cabang olahraga yaitu atletik, bulu tangkis, tenis meja, panahan, angkat berat, renang (atlet tuna daksa, tuna grahita dan tuna runggu) dan catur (atlet tuna netra, tuna daksa, tuna rungu dan tuna grahita).
"Kita merencanakan membawa 42 atlet untuk cabang olahraga, 20 ofisial atau pendamping, dana untuk kebutuhan biaya selekda, pelatda dan mengikuti paralimpic nasional," katanya.
Dikatakannya, untuk melaksanakan program persiapan menghadapi multieven olahraga nasional empat tahunan bagi atlet penyandang cacat Aceh, pihaknya sudah melayangkan surat permohonan audensi dengan Gubernur Aceh, namun sudah sebulan belum ada dipanggil untuk bisa bertemu.
"Sudah sebulan surat permohonan audensi disampaikan ke Gubernur Aceh, namun sampai hari ini belum dipangil. Tidak ada perhatian sama sekali," ungkap Hamdaniel yang merasakan nasib penyandang cacat kurang mendapat perhatian Pemerintah Aceh.
Kecuali itu, ia menegaskan, sesuai regulasi Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3 tahun 2005 bahwa olahraga penyandang cacat juga olahraga prestasi, yang harus diperhatikan oleh pemerintah.
Padahal, atlet penyandang cacat Aceh juga telah mengharumkan nama daerah di even nasional. Atlet atletik (atlet tuna daksa) Muhajar bahkan telah mengharumkan nama Indonesia dengan meraih dua medali emas dan satu perak di Asian Para Game, November 2011 di Surakarta, Jawa Tengah.
Ia menyatakan, sepertinya kegiatan peyandang cacat saat ini di Aceh masih saja kurang mendapat perhatian dan dukungan dari Pemerintah Aceh.
Padahal para penyandang cacat juga harus mendapat perhatian, dukungan dan penghargaan yang sama dengan orang-orang normal lainnya, dalam melakukan aktivitas, berkreativitas dan berprestasi di berbagai bidang termasuk olahraga.
Kenyataan kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh dirasakan dalam menjalankan program pembinaan atlet-atlet penyandang cacat Aceh menghadapi Peparnas, Oktober mendatang, katanya lagi